Deni Soroti Operasional Insinerator yang Belum Berjalan Optimal

sinarkaltim.id

Ilustrasi Insinerator di Samarinda (ist)

Samarinda – Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar menilai pemanfaatan insinerator sebagai fasilitas pengolah sampah masih menghadapi berbagai hambatan teknis yang berdampak pada belum optimalnya kapasitas operasional. Waktu yang dibutuhkan mesin untuk mencapai suhu kerja hingga proses pendinginan setelah digunakan dinilai mengurangi durasi efektif pembakaran sampah setiap harinya.

Deni mengungkapkan hasil peninjauan pihaknya menunjukkan masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang perlu segera dibenahi agar pengoperasian fasilitas tersebut dapat berjalan lebih maksimal.

“Dari hasil evaluasi kami, operasional insinerator saat ini memang belum bisa dikatakan maksimal,” ujarnya usai rapat, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga  Jaga Konsistensi Belajar Siswa, SMPN 7 Bontang Utamakan Rapor di Seleksi Prestasi SPMB 2026

Ia menerangkan, setiap kali akan digunakan, insinerator harus melalui tahap pemanasan terlebih dahulu hingga mencapai temperatur sekitar 900–1.000 derajat Celsius.

Proses awal tersebut membutuhkan waktu sekitar satu jam. Setelah pembakaran selesai dilakukan, mesin juga memerlukan waktu kurang lebih dua jam untuk menjalani tahapan penghentian operasional.

Dengan kondisi tersebut, Deni menilai hampir separuh waktu operasional harian tersita untuk proses teknis, sehingga waktu yang benar-benar dimanfaatkan untuk membakar sampah menjadi jauh lebih singkat.

“Kalau tiga jam habis hanya untuk proses menyalakan dan mematikan mesin, tentu waktu efektif pembakarannya menjadi jauh berkurang. Akibatnya target pengolahan sekitar delapan hingga sepuluh ton sampah per hari akan sulit dicapai,” jelasnya.

Baca Juga  Dispora Kaltim Siap Bangun Fasilitas Khusus Pickleball, Target 2025 Mendatang

Tak hanya menyoroti kinerja mesin, Deni juga memberi perhatian pada mekanisme pemilahan sampah yang hingga kini masih mengandalkan tenaga manual. Menurut Deni, metode tersebut membuat alur pengolahan menjadi lebih lambat sebelum sampah dapat dimasukkan ke dalam ruang pembakaran.

Berdasarkan paparan DLH dalam suatu rapat, proses pemilahan untuk satu truk sampah dengan kapasitas sekitar tiga hingga empat ton bahkan bisa berlangsung hingga lima hari.

Baca Juga  Arie Wibowo Soroti Lambatnya Pemanfaatan Teras Samarinda yang Sudah Rampung

“Ini menunjukkan fasilitas pendukungnya masih belum memadai. Kalau pemilahannya saja memakan waktu selama itu, tentu akan memengaruhi keseluruhan proses pengolahan sampah,” katanya.

Deni menilai keberadaan infrastruktur pendukung tersebut menjadi faktor penting agar investasi pemerintah dalam pengelolaan sampah mampu memberikan hasil yang optimal sekaligus menekan volume sampah yang dihasilkan di Kota Samarinda.

“Kami berharap DLH segera menyusun sistem pendukung yang lebih lengkap sehingga insinerator dapat bekerja secara optimal dan memberikan hasil yang maksimal dalam penanganan sampah,” pungkasnya. (Adv/ DPRD Samarinda)

تحميل...

Baca Juga

Bagikan:

Tinggalkan komentar