Samarinda – Penyesuaian harga BBM non subsidi mulai pertengahan April 2026 membawa dampak berantai, dari biaya usaha hingga harga kebutuhan pokok.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menilai kenaikan ini sudah menjadi hal yang diperkirakan sebelumnya, terutama karena keterbatasan subsidi pemerintah.
“Hal ini sudah kita perkirakan. Sampai sejauh mana pemerintah bisa menahan subsidi, ada batasnya,” ujarnya, Rabu (6/5/2026)
Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM akan berpengaruh langsung pada biaya transportasi dalam dunia usaha.
“Pasti berdampak ke transportasi. Sementara dalam dunia usaha, biaya transportasi itu bisa menyumbang sekitar 30 persen dari harga pokok produksi. Jadi mau tidak mau, harga barang ikut naik,” jelasnya.
Sebagai informasi, harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp19.400 per liter, naik Rp6.300 dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Sementara Dexlite mengalami kenaikan lebih tinggi menjadi Rp23.600 per liter, atau melonjak Rp9.400 dari harga sebelumnya Rp14.200 per liter.
Dampak tersebut kemudian menjalar ke harga bahan pokok yang dikonsumsi masyarakat.
“Kalau distribusinya dari luar daerah, tentu ada tambahan biaya transportasi. Ini yang saya maksud multiplier effect,” katanya.
Menurutnya, kondisi global juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebijakan ini.
“Masalah geopolitik internasional pasti berimbas ke kita, terutama di sektor ekonomi,” tambahnya.
Di tengah situasi ini, ia mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan.
“Masyarakat harus pintar-pintar mengatur keuangan,” katanya.
Di akhir, Ia juga mengingatkan bahwa BBM bersubsidi masih tersedia dan bisa dimanfaatkan sesuai aturan.
“Kalau pelaku usaha tertentu masih bisa menggunakan BBM bersubsidi sesuai aturan, tentu dampaknya tidak terlalu besar,” tutup Iswandi. (*)



