Kontradiksi Pengelolaan Kebersihan di Puncak Steling sebagai Destinasi Wisata Alam di Kota Samarinda

sinarkaltim.id

Departemen Sosial dan Pemberdayaan UKM KPM FISIP UNMUL

Puncak Steling di Samarinda merupakan salah satu destinasi wisata alam yang semakin populer dan ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun luar daerah. Daya tarik utama kawasan ini terletak pada panorama perbukitan hijau, udara yang sejuk, serta pemandangan kota dari ketinggian yang memberikan pengalaman wisata yang menenangkan. Akses menuju puncak umumnya melalui jalur pendakian yang melintasi permukiman warga dan juga sumber kelembagaan setempat seperti kantor kelurahan dan lain-lain, dengan beberapa titik perhentian seperti rest area yang menjadi lokasi singgah pengunjung.

Namun, di balik pesona alam yang ditawarkan, kondisi kebersihan di sepanjang jalur pendakian masih menjadi perhatian. Berdasarkan pengamatan lapangan, masih ditemukan sampah berserakan di beberapa titik, seperti botol plastik, bungkus makanan, gelas sekali pakai, kantong plastik, hingga puntung rokok. Selain itu, terdapat bekas pembakaran sampah serta penggunaan karung sebagai tempat penampungan sementara yang kurang memadai, sehingga sampah berpotensi mudah tersebar kembali ke lingkungan sekitar.

Permasalahan ini berkaitan erat dengan terbatasnya fasilitas kebersihan di kawasan wisata. Di sepanjang jalur pendakian hampir tidak tersedia tong sampah, sementara tempat sampah hanya ada di area puncak. Berdasarkan kondisi lapangan, keterbatasan ini terjadi karena pengelola belum memperoleh dukungan dana dari pemerintah untuk penyediaan sarana dan fasilitas yang padahal menurut keterangan pengelola puncak steling telah patuh membayar pajak dan retribusi. Sehingga, selama ini biaya pengelolaan hanya mengandalkan pemasukan dari tiket masuk wisatawan yang dipungut di puncak, sehingga anggaran yang tersedia masih sangat terbatas dan belum mampu mencukupi kebutuhan fasilitas kebersihan di seluruh area wisata. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa fasilitas di kawasan Puncak Steling masih tergolong cukup memadai namun belum cukup untuk menunjang aktivitas wisata secara optimal (Azizah et al., 2023).

Baca Juga  Strategi Baru Indonesia: Dari Utang ke Pendapatan untuk Pertumbuhan EkonomiBerkelanjutan

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Puncak Steling bukan semata akibat kurangnya kesadaran pengunjung, tetapi juga karena keterbatasan sarana pendukung yang tersedia, sehingga diperlukan perhatian lebih serius dari pemerintah maupun pihak terkait. Berdasarkan pendapat pengunjung, tingkat kebersihan di Puncak Steling dinilai memadai dan kondusif sebagai destinasi wisata, meskipun akses jalan menuju lokasi tersebut tidak mudah untuk ditempuh, khususnya saat musim hujan. Kebersihan jalur akses juga mendapat penilaian positif. Pengunjung menekankan bahwa kenyamanan merupakan faktor utama dalam pengalaman wisata, dan Puncak Steling memenuhi kriteria ini berkat pengendalian sampah yang efektif, sehingga mencegah kehadiran hewan pengganggu (Sari, 2024). Fasilitas tong sampah yang ada dianggap cukup, namun disarankan penambahan tong khusus untuk sampah organik dan non-organik guna mendorong partisipasi pengunjung dalam pemilahan sampah serta mendukung program daur ulang oleh pengelola.

Pihak pengelola menyatakan bahwa fasilitas kebersihan di kawasan Puncak Steling secara umum telah cukup terakomodasi, ditunjang oleh sistem pengelolaan yang terstruktur dan terencana. Tempat penampungan sampah telah disediakan di berbagai titik strategis, dilengkapi dengan jadwal pengangkutan yang rutin sehingga tidak terjadi penumpukan sampah di lokasi. Namun, di rest area fasilitas kebersihan masih terbatas, dengan hanya tersedia karung sampah tanpa penunjang lainnya seperti tempat sampah terstandar atau fasilitas pendukung lainnya. Pengelola juga menilai bahwa sebagian besar pengunjung memiliki kesadaran akan kebersihan yang cukup baik, tercermin dari kebiasaan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Hal tersebut turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan Puncak Steling, meskipun infrastruktur kebersihan di area menuju puncak belum terakomodir sepenuhnya.

Baca Juga  Dispora Kaltim Targetkan Stadion Palaran sebagai Pusat Olahraga Internasional

Meskipun pada saat ini Puncak Steling menghadapi berbagai keterbatasan dari beberapa aspek, baik dari popularitas maupun pengelolaan, kawasan ini memiliki daya tarik dan potensi wisata yang besar. Hal ini sejalan dengan tren pariwisata global dan nasional yang mengarah pada wisata berbasis alam, ramah lingkungan, serta pengalaman yang lebih autentik dan bermakna, sebagaimana tercermin dalam laporan Indonesia Tourism Outlook 2025–2026 (Kementerian Pariwisata RI, 2025). Secara karakteristik, Puncak Steling telah memenuhi kriteria tersebut melalui panorama alam, udara segar, serta aktivitas tracking yang ditawarkan.

Namun demikian, pengelolaan kawasan ini masih memerlukan peningkatan, terutama dalam penyediaan fasilitas kebersihan yang lebih merata, penataan kawasan yang lebih terorganisir, serta sistem pengelolaan yang lebih profesional. Di samping itu, persoalan yang tidak kalah penting adalah kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan lingkungan wisata.

Salah satu upaya yang dapat dipertimbangkan adalah pembatasan penggunaan barang sekali pakai, khususnya makanan dan minuman dari luar yang berpotensi menghasilkan sampah. Dari sisi positif, langkah ini dapat mendorong pengunjung untuk lebih sadar lingkungan dengan membawa tumbler atau wadah makan pribadi (zero waste), sekaligus mendukung perputaran ekonomi UMKM lokal di area puncak. Dengan sistem yang lebih terkontrol, pengelolaan sampah juga menjadi lebih mudah dilakukan oleh pengelola kawasan.

Namun demikian, kebijakan ini juga memiliki tantangan. Pembatasan makanan dari luar berpotensi menimbulkan resistensi dari pengunjung, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan biaya atau preferensi tertentu. Selain itu, kesiapan UMKM dalam menyediakan produk yang terjangkau, higienis, dan memadai juga menjadi faktor penting. Tanpa pengelolaan yang baik, kebijakan ini justru dapat mengurangi kenyamanan pengunjung. Di sisi lain, penerapan aturan tersebut membutuhkan mekanisme pengawasan yang jelas, yang menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola dengan keterbatasan sumber daya.

Baca Juga  APBN 2026: Harapan di Tengah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih efektif bukan hanya terletak pada kebijakan pembatasan, tetapi pada peningkatan awareness pengunjung sebagai kunci utama. Edukasi dapat dilakukan melalui pemasangan tanda persuasif di sepanjang jalur pendakian, kampanye kebersihan berbasis komunitas, serta himbauan langsung dari pengelola. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban pengelola, melainkan tanggung jawab bersama. Solusi terhadap permasalahan kebersihan di Puncak Steling tidak hanya bergantung pada fasilitas atau aturan, tetapi juga pada perilaku pengunjung itu sendiri. Ketika kesadaran lingkungan tumbuh, keterbatasan sarana dapat diminimalkan melalui tindakan yang bertanggung jawab. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, Puncak Steling berpotensi berkembang tidak hanya sebagai destinasi wisata alam yang indah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan. (Penulis: Departemen Sosial Pemberdayaan Masyarakat)

DAFTAR REFERENSI

Azizah, A., Asriatul, N. K., K, D. S., P, N., & H, O. (2023). Pengembangan Puncak Selili Sebagai Kawasan Pariwisata Berbasis Adventure Tourism. TRANSFORM: Journal of             TropicalArchitecture and Sustainable Urban Science, 2(2), 50–57. https://e-    journals2.unmul.ac.id/index.php/transform

Kementerian Pariwisata RI. (2025, November 20). Indonesia Tourism Outlook 2025/2026:    Insight Report on The Quality Tourism in Indonesia. Kemenpar.Go.Id.   https://kemenpar.go.id/berita/indonesia-tourism-outlook-20252026

Sari, F. B. (2024). Identifikasi Potensi Kawasan Wisata Alam Bukit Stelling Selili Kota     Samarinda. Jurnal Kajian Wilayah dan Kota, 3.

تحميل...

Baca Juga

Bagikan:

Topik

Tinggalkan komentar