Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, menegaskan bahwa penanganan HIV tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan. Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh melalui edukasi sejak usia sekolah agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar mengenai HIV, tuberkulosis (TBC), kesehatan reproduksi, serta pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Ia menilai pendidikan menjadi langkah strategis untuk menekan angka penularan HIV di Kota Samarinda. Dengan pemahaman yang tepat sejak dini, pelajar diharapkan mampu mengenali cara penularan, langkah pencegahan, serta menghilangkan berbagai stigma yang masih berkembang di tengah masyarakat.
“Penanganan HIV harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya sektor kesehatan. Edukasi harus dimulai sejak usia sekolah agar anak-anak memahami cara mencegah penularan HIV,” ujar Ismail, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar edukasi mengenai HIV dapat berjalan secara berkelanjutan. Materi yang diberikan juga harus disesuaikan dengan usia peserta didik sehingga mudah dipahami tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
Ismail mengungkapkan, berdasarkan data yang diterima Komisi IV DPRD Kota Samarinda, sekitar 4.000 kasus HIV telah tercatat di Kota Samarinda. Angka tersebut menjadi perhatian serius dan menunjukkan perlunya langkah pencegahan yang lebih masif melalui pendekatan promotif dan preventif.
Selain edukasi, ia juga mengingatkan pentingnya menghapus stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). Menurutnya, diskriminasi justru dapat membuat penyintas enggan memeriksakan diri maupun melanjutkan pengobatan sehingga berpotensi meningkatkan risiko penularan.
“Jangan beri stigma kepada penyintas HIV. Mereka membutuhkan dukungan agar tetap menjalani pengobatan dan memiliki kualitas hidup yang baik,” tegasnya.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat berperan aktif dalam mendukung program pencegahan HIV melalui peningkatan literasi kesehatan, pemeriksaan secara dini, serta menciptakan lingkungan yang inklusif bagi para penyintas. Dengan sinergi berbagai pihak, Ismail optimistis upaya pengendalian HIV di Samarinda dapat berjalan lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh. (Adv/ DPRD Samarinda)




