KUTAI KARTANEGARA — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memantau kondisi anak-anak korban kebakaran untuk mengidentifikasi kebutuhan pendampingan psikologis sejak dini. Perhatian diberikan pada perubahan perilaku anak setelah mengalami peristiwa yang berpotensi menimbulkan trauma.
Kepala DP3A Kukar, Syafliansyah, mengatakan pemantauan dilakukan dengan menyisir warga terdampak, terutama anak-anak yang membutuhkan dukungan setelah mengalami kebakaran. Langkah tersebut diperlukan agar kondisi psikologis mereka tidak luput dari perhatian di tengah penanganan pascakejadian.
“Memang pada saat selesai kebakaran, saya minta teman-teman untuk menyisir, karena biasanya ada anak-anak yang perlu kita dampingi,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, DP3A Kukar menggelar pendampingan psikososial melalui kegiatan bermain dan menggambar pada Kamis (8/10/2026). Aktivitas tersebut dipilih untuk memberikan ruang bagi anak-anak mengekspresikan perasaan dengan cara yang dekat dengan keseharian mereka.
Kegiatan ini diikuti sekitar 50 anak, mulai dari usia taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD), termasuk siswa kelas III dan IV dari sekolah di sekitar lokasi kebakaran. DP3A Kukar juga menyediakan alat tulis dan perlengkapan menggambar untuk mendukung aktivitas tersebut.
Syafliansyah menjelaskan, perubahan perilaku menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah anak mengalami peristiwa traumatis. Penanganan sejak awal diharapkan dapat membantu mengurangi dampak psikologis yang berpotensi berlanjut apabila tidak dikenali dan ditangani dengan tepat.
“Dengan bermain dan menggambar seperti ini, kita harapkan traumanya bisa berkurang. Karena biasanya kalau trauma anak-anak tidak cepat ditangani, maka bisa jangka panjang,” jelasnya.
Selain mendampingi anak secara langsung, DP3A Kukar juga memberikan edukasi kepada orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Syafliansyah mencontohkan, anak yang biasanya ceria tetapi kemudian menjadi lebih pendiam perlu mendapat perhatian.
Pengamatan orang tua terhadap perubahan tersebut penting untuk membantu mengenali kondisi anak dan menentukan dukungan yang diperlukan. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya berlangsung saat kegiatan bersama petugas, tetapi juga dapat dilanjutkan melalui perhatian keluarga sehari-hari.
Setelah pendampingan awal, DP3A Kukar akan mengevaluasi kondisi anak-anak yang mengikuti kegiatan. Evaluasi ini menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan kebutuhan pendampingan berikutnya, terlebih sejumlah orang tua juga menyampaikan keinginan agar kegiatan serupa kembali dilaksanakan.
“Sementara kita hari ini dulu melaksanakan kegiatan ini, nanti kita lihat kondisinya. Karena tadi ada permintaan juga dari ibu-ibunya, mereka ingin didampingi dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Nanti kita jadwalkan lagi kegiatan seperti ini, sambil kita evaluasi prosesnya,” ungkap Syafliansyah.
Melalui pemantauan dan evaluasi tersebut, DP3A Kukar berharap pendampingan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap anak. Upaya ini diharapkan membantu mereka kembali merasa nyaman dan menjalani aktivitas sehari-hari setelah mengalami kebakaran.
“Harapannya melalui kegiatan ini, mudah-mudahan anak-anak hilang traumanya. Sehingga kita ingin anak-anak kita ceria kembali, ketawa kembali, dan bisa melupakan peristiwa yang kemarin,” pungkasnya. (Adv/fi)




