Belajar Jadi Teman yang Baik, Kelas Tunas Edukasi Anak tentang Bullying

sinarkaltim.id

Kelas Interaktif Dengan Tema " Berteman Dengan Baik Tanpa Bullying"

SAMARINDA — Anak-anak duduk beralaskan karpet menghadap tiga pengisi kegiatan yang berada di tepi panggung. Tas dan botol minum terletak di dekat mereka. Di sisi ruangan, layar menampilkan ajakan untuk berbagi pertanyaan maupun cerita.

Suasana itu terlihat dalam kelas interaktif bertema “Berteman dengan Baik Tanpa Bullying” yang diselenggarakan Kelas Tunas di lantai 3 Sekretariat DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur, Minggu (4/10/2026). Pertemuan tersebut membawa persoalan yang dekat dengan keseharian anak: bagaimana berteman tanpa membuat orang lain merasa takut atau tersakiti.

Penanggung jawab Kelas Tunas, Muhammad Faizal Hafizh, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diisi oleh pemateri undangan Annisa Sebagai Mahasiswa Pembangunan Sosial FISIP Unmul dan Agus Saputra Sebagai Mahasiswa IKIP PGRI Samarinda

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa berteman itu bukan hanya tentang bermain bersama, tetapi juga saling menghargai, menjaga perasaan, dan berani meminta bantuan ketika melihat atau mengalami perundungan,” kata Faizal, Minggu (4/10/2026)

Kelas Tunas merupakan wadah pembelajaran gratis bagi anak-anak yang membutuhkan tambahan bimbingan belajar maupun mereka yang putus sekolah. Pada pertemuan kali ini, materi pembelajaran mengangkat cara mengenali perundungan, membedakannya dengan candaan, serta membangun hubungan pertemanan yang saling menghargai.

Baca Juga  FISIP Unmul Gelar KPMF 2025: Bentuk Karakter Mahasiswa Kritis dan Inisiatif

Pembahasan dalam materi berangkat dari pertanyaan sederhana tentang sahabat dan kegiatan yang biasa dilakukan bersama teman. Dari situ, anak-anak diperkenalkan pada pengertian bahwa teman yang baik adalah seseorang yang membuat orang lain merasa aman, dihargai, dan senang.

Perundungan kemudian dikenalkan melalui contoh yang mudah dipahami. Bentuknya dapat berupa memukul atau mendorong, mengejek fisik maupun nama, sengaja mengucilkan, hingga merusak barang milik teman.

Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya memahami batas dalam bercanda. Candaan yang menyenangkan melibatkan rasa senang bersama. Ketika seorang teman sudah menyatakan tidak suka atau menangis, perilaku yang menyakitinya harus dihentikan.

“Kalau teman tidak nyaman, kita berhenti!” demikian pesan dalam materi kelas tersebut.

Baca Juga  Komisi IV DPRD Samarinda, Minta Disdikbud Benahi Data Sekolah dan Perjelas Penggunaan Anggaran

Pelajaran tentang pertemanan juga diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari: mendengarkan ketika teman berbicara, membantu saat teman kesulitan belajar atau bermain, serta tidak mengejek kondisi fisik maupun sifat seseorang.

Anak-anak juga diajak berteman tanpa membedakan suku, kemampuan, atau penampilan. Materi itu menempatkan sikap menghargai sebagai bagian dari hubungan yang membuat setiap anak merasa diterima.

Selain mengenali perilaku perundungan, bahan pembelajaran memuat langkah yang dapat dilakukan ketika anak mengalaminya. Anak diarahkan untuk menyampaikan penolakan dengan tegas, menjauh ke tempat aman, lalu mencari bantuan teman atau orang dewasa.

Bercerita kepada guru, wali kelas, guru bimbingan konseling, maupun orang tua diperkenalkan sebagai cara meminta pertolongan. Dengan begitu, anak tidak harus menghadapi pengalaman yang menyakitkan seorang diri.

Perhatian juga diberikan kepada anak yang menyaksikan temannya dirundung. Materi mengingatkan agar mereka tidak ikut menertawakan, menyebarkan ejekan, atau berpura-pura tidak mengetahui kejadian tersebut. Mereka dapat menemani teman yang sedih, melapor kepada guru, dan mencari bantuan orang dewasa jika situasinya berbahaya.

Baca Juga  Samaqua Tak Sekadar Tambah PAD, Helmi Dorong Dampak Ekonomi bagi Masyarakat

Untuk mendekatkan pemahaman dengan kehidupan sehari-hari, materi dilengkapi permainan “Teman Baik atau Bukan?”. Contohnya mencakup membantu tugas dan mengajak bermain, yang dibandingkan dengan mengejek fisik atau menyembunyikan pensil teman.

Di bagian akhir, terdapat “Janji Teman Baik” yang berisi komitmen untuk menghargai sesama, tidak melakukan perundungan, dan berani bersuara untuk kebaikan.

Faizal berharap pesan dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan bermain.

“Harapannya, anak-anak tidak hanya memahami materi selama kegiatan, tetapi juga membawanya dalam kebiasaan sehari-hari. Mereka bisa menjadi teman yang baik dan tidak takut bercerita kepada orang dewasa jika menghadapi masalah,” ujarnya.

Dari contoh-contoh sederhana itu, kelas ini membawa pesan bahwa menjadi teman yang baik dapat dimulai dari tindakan kecil seperti mendengarkan cerita, berhenti ketika orang lain tidak nyaman, dan hadir ketika seorang teman membutuhkan bantuan.

تحميل...

Baca Juga

Bagikan:

Topik

Tinggalkan komentar