BONTANG – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kota Bontang tidak menggunakan satu pola baku. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) memilih menerapkan sistem fleksibel dengan memadukan pendaftaran daring dan luring, menyesuaikan kondisi di masing-masing wilayah.
Kebijakan ini diambil untuk menjawab perbedaan karakteristik wilayah, terutama di kawasan pesisir dan daerah dengan jumlah calon siswa yang relatif sedikit.
Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin, menjelaskan bahwa penggunaan sistem daring tidak selalu relevan jika jumlah pendaftar lebih kecil dibandingkan daya tampung sekolah.
“Kalau daya tampung lebih besar dari jumlah pendaftar, penggunaan sistem daring tidak terlalu dibutuhkan,” ujarnya, dihubungi, Rabu (16/04/2026)
Di wilayah kepulauan seperti Pulau Gusung dan Tihi-Tihi, proses pendaftaran tetap dilakukan secara tatap muka. Metode ini dinilai lebih sederhana, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Selain faktor jumlah siswa, penerapan sistem daring juga mempertimbangkan aspek anggaran. Penggunaan sistem digital dinilai kurang efektif jika tidak sebanding dengan jumlah peserta didik.
Tidak hanya di wilayah pesisir, skema luring juga diterapkan di kawasan daratan dengan jumlah lulusan terbatas, seperti Bontang Lestari yang hanya memiliki sekitar 60 lulusan dari dua sekolah dasar.
Dalam pelaksanaan tahun ini, Disdikbud memfokuskan penerimaan di tujuh sekolah, baik jenjang SD maupun SMP, dengan daya tampung yang telah disesuaikan kebutuhan riil di lapangan.
Beberapa sekolah dasar di wilayah pesisir membuka satu hingga dua rombongan belajar dengan kapasitas 28 hingga 64 siswa. Sementara itu, di tingkat SMP, SMP Negeri 6 Bontang menjadi salah satu sekolah dengan daya tampung terbesar, mencapai 108 siswa.
“Daya tampung sudah kami sesuaikan dengan kebutuhan dan aturan yang ada,” jelasnya.




