ANAK MUDA BOLEH FOMO POLITIK

sinarkaltim.id

Aulia Nabila-SAMBALIUNG CORNER

FEAR OF MISSING OUT,a.k.a FoMO. Just swipe and scroll, anak muda bukan hanya menyerap informasi, tapi juga menyalakan api perubahan yang bisa membakar ketidakadilan dan membangun harapan baru. Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) dalam definisinya adalah suatu fenomena ketika individu merasa khawatir atau takut karena tidak mengalami atau terlibat dalam peristiwa yang dianggap oleh individu lain adalah hal yang penting, dan menjadikan media sosial sebagai sarana penunjang untuk individu melakukan dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh individu lain, ini adalah sebagai tanda bahwa individu tersebut memiliki keinginan untuk tetap terhubung dengan individu lain (Febriani et al., 2020).

Singkatnya, Fear Of Missing Out adalah rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Awalnya, saya  melihat politik sebagai sesuatu yang jauh, rumit, dan bahkan membosankan, biarkan menjadi urusan orang tua atau elit saja. Namun, ketika saya mulai merasakan FoMO, yaitu takut tertinggal informasi dan diskusi yang sedang ramai di media sosial, saya terdorong untuk lebih aktif mengikuti perkembangan politik. FoMO sangat menyadarkan bahwa politik sebenarnya sangat dekat dan berpengaruh langsung pada hidup, mulai dari kebijakan pendidikan, lapangan kerja, hingga hak-hak dasar yang kita miliki. Partisipasi politik bukan hanya soal datang ke TPS saat pemilu, tapi juga tentang terus mengupdate diri, berdiskusi, dan berani menyuarakan pendapat, hingga terbitlah tulisan ini sebagai usaha untuk bisa “berdampak” .

Baca Juga  “Pemenuhan Kebutuhan Masyarakat : Pemerintah merasa Dilema?”

Dengan adanya FoMO, saya merasa terdorong untuk tidak hanya jadi penonton, tapi juga pemain dalam proses demokrasi. FoMO politik harus menjadi panggilan untuk terus menggali, belajar, dan berani mempertanyakan, supaya setiap langkah yang diambil bukan hanya demi terlihat eksis, dengan cara itulah, FoMO bukan lagi sekedar rasa takut ketinggalan, melainkan menjadi api semangat yang membakar semangat perubahan.

Theodore Roosevelt bilang, “Jangan pernah mengatakan kamu tidak bisa melakukan sesuatu hanya karena kamu masih muda.”, John F. Kennedy bilang “Jangan tanyakan apa yang negara bisa berikan padamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu.”, FoMO bisa menjadi langkah awal kamu peduli apa yang sedang terjadi pada Ibu Pertiwi, FoMO politik bisa buat kamu paham kalau rezim pemimpin kita perlu di kritik, kamu paham bahwa penghianat HAM tak pantas disebut pahlawan , FoMO politik bisa buat kamu paham kalau kurikulum pendidikan terus berganti tidak efektif suatu saat bisa menghancurkan anak cucu dimasa datang, FoMO politik bisa buat kamu paham kalau keindahan alam Indonesia yang selama ini kita nikmati tak pantas untuk dirusak.

Baca Juga  Keluarga Mahasiswa Universitas Mulawarman Desak Evaluasi Total terhadap PKKMB 2025

“Anda tidak perlu menjadi orang Italia untuk membenci Mussolini yang fasis, tidak perlu menjadi warga Palestina untuk membenci Benjamin Netanyahu”- Herdiansyah Hamzah, maka anda tidak perlu lahir dizaman soeharto untuk merasakan kejamnya penghiatan HAM yang terjadi, anda tidak perlu kembali sekolah untuk merasakan jenuhnya pergantian kurikulum, anda tidak perlu menjadi warga papua untuk merasakan sakitnya melihat alam dieksploitasi perlahan.

Jadi anda tidak perlu menunggu negeri ini hancur untuk bisa membuka mata sedekat apa pengaruh politik dengan hidup kita, membiarkan manipulasi politik sama saja mengizinkan anak cucu kita diperbudak oleh kebodohan zaman. Berdasarkan KBBI, demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat.

Fenomena FoMO di kalangan Generasi Z memengaruhi partisipasi politik mereka dalam pesta demokrasi, di mana FoMO mendorong keterlibatan aktif dalam diskusi dan kegiatan politik daring untuk menghindari rasa ketinggalan, meskipun tidak selalu berdampak pada pengambilan keputusan politik yang kritis

Studi menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar Generasi Z tidak mengalami kecemasan FoMO secara signifikan dalam politik, pengaruh opini influencer dan tekanan sosial tetap ada, sehingga strategi khusus tetap diperlukan untuk menghadapi dinamika ini agar partisipasi politik tetap berkualitas dan demokrasi terjaga.[i]

Baca Juga  OPINI KARTINI DALAM PERSPEKTIF GMNI

Politik bukan panggung sandiwara namun medan perang hidup dan mati yang menentukan nasib jutaan jiwa. FOMO itu ibarat ledakan bom waktu di kepala kita, sekejap membakar rasa penasaran dan semangat, tapi jika tak segera disulut dengan aksi nyata, ia akan meledak sia-sia dan hilang tanpa bekas. Jangan sampai FOMO hanya jadi sampah digital yang terbuang di lautan scroll tanpa makna, membiarkan FOMO-mu mati begitu saja, sama saja kamu menyerahkan kedaulatan pikiranmu kepada para pemimpin yang haus kekuasaan dan para elit yang rakus.

Banyaknya tumpukan dosa rezim rakus kekuasaan, sadarkah kalian kita sedang menyaksikan demokrasi mati perlahan?, anak muda punya pilihan untuk memulai perubahan, jangan tutup mata pada ketidakadilan, ayo Lawan, Kritik, dan suarakan.

Referensi :

[1] Ellynda Kusuma Anggraeni, “Fear Of Missing Out (FOMO) – Ketakutan Kehilangan Momen,” DJKN Kemenkeu, 8 Juni 2021, https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13931/Fear-Of-Missing-Out-FOMO-Ketakutan-Kehilangan-Momen.html

[2] Hukumonline, “Demokrasi: Sejarah dan Pelaksanaannya di Indonesia,” 2025, https://www.hukumonline.com/berita/a/demokrasi–lt61b739dbb5bf8/

[3] Yuniar Rahmawati et al., “Kemandirian Generasi Z dalam Politik: Studi Tentang FoMO dan Media Sosial,” Jurnal Komputer, Informasi Dan Teknologi, 2025, https://doi.org/10.53697/jkomitek.v5i1.2269

تحميل...

Baca Juga

Bagikan:

Tinggalkan komentar