History is written by the victors- ungkapan yang sering kita dengar, ada pula yang mengatakan sejarah adalah kumpulan kebohongan yang disepakati, Menurut Foucault kekuasaan berkaitan erat dengan pengetahuan, sebaliknya tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan (Lubis, 2014a: 177). Jadi pada intinya pengetahuan sejarah yang kita dengar mungkin berasal dari mereka yang memiliki akses dan kekuasaan, bukan untuk memberikan wawasan, namun untuk mengontrol apa yang tidak boleh kita tau dan boleh kita tau.
saya mengingat pesan bung Castro (Herdiansyah Hamzah), beliau berkata bahwa tembok tebal itu tidak bisa rubuh dalam sekali pukul, revolusi tidak akan langsung terjadi esok namun perlu direncanakan, maka gerakan perlawanan itu harus konsisten, dan itulah yang tengah saya usahakan saat ini, untuk tidak pernah berdiam diri dan berhenti menyuarakan, memperjuangkan hak-hak perempuan. Tulisan ini diketik dari sudut pandang perempuan, tanpa mengurangi rasa hormat dan memojokkan para kaum adam, pun jika menyinggung beberapa pihak, itu tanda saya masih belajar dan terbuka akan kritik dan juga saran
Saya menyimpulkan kutipan dari buku A People’s History Howard Zinn yang pada intinya “Jika Anda bukan orang kulit putih, dan jika Anda seorang perempuan, Anda tidak akan disebutkan dalam sejarah, kecuali untuk merusak reputasi.” Miris sekali bukan, perempuan tidak ada dalam sejarah kecuali untuk dijelekkan dan dihancurkan reputasinya, apakah artinya tidak ada pahlawan perempuan dalam sejarah?, tentu ada; R.A Kartini, cut Nyak dien, Martha Christina misal. Namun kita bisa menilai bahwa Zinn melihat dari sudut pandang banyak perempuan biasa (tanpa privilege) yang berperan dalam memperjuangkan bangsa namun tidak ternotice, apakah ini terjadi? Ya ini terjadi namun sebelum itu mari jawab satu hal ini, dalam fikiran kita masing-masing, apakah anda masih percaya pada sejarah yang tertulis?, apa anda semua meyakini bahwa sejarah diukir oleh pemenang atau mereka yang berkuasa?, Mari kita kritisi siapa sesungguhnya pemenang/pemegang kuasa yang dimaksud, ada kepentingan terselubung apa didalamnya, ini akan berkaitan dengan pembahasan saya mengenai banyaknya penghapusan peran perempuan dalam sejarah karena sejarah yang ditulis oleh sang penguasa itu tadi
Saya juga menilai bahwa Zinn ingin kita belajar untuk tidak menelan mentah cerita sejarah yang selama ini didongengkan. Dalam buku-buku sejarah kita, tragedi-tragedi besar seperti G30S, pembantaian 1965, hingga Tragedi Semanggi dan Salim Kancil seringkali digambarkan sebagai episode heroik yang didominasi oleh kaum laki-laki. Namun, di balik narasi resmi yang berfokus pada sosok pahlawan maskulin, sebenarnya tersembunyi perjuangan dan penderitaan perempuan yang sering kali diabaikan. Mereka bukan sekadar korban pasif, mereka aktif dalam pergerakan sosial dan politik, meskipun peran mereka kerap dinarasikan secara tidak adil.
Pada kenyataannya, narasi Sejarah itu Berpihak, narasi yang sering melupakan peran dan penderitaan perempuan dalam Tragedi Semanggi dan Salim Kancil menunjukkan bahwa sejarah kita masih cenderung patriarkis. Dalam kasus Gerwani pada tahun 1965. Gerwani adalah organisasi perempuan yang didirikan pada tahun 1950 dengan nama Gerakan Wanita Sedar (Gerwis). Di tahun 1954, Gerwis berganti nama menjadi Gerwani dengan anggota mencapai 80.000 orang.[1] Organisasi perempuan ini, berfokus pada pemberdayaan dan hak-hak sosial, menjadi sasaran fitnah keji yang digunakan untuk melegitimasi kekuasaan rezim baru. Ribuan anggotanya, dari aktivis hingga ibu rumah tangga, dipenjara paksa tanpa proses hukum dan mengalami kekerasan ekstrem hingga pelecehan seksual. Kisah mereka adalah cermin bagaimana narasi sejarah kita dapat dimanipulasi untuk menghancurkan harkat dan martabat perempuan. Demikian pula, dalam gerakan Reformasi 1998, mahasiswi seperti Diana Binti Wahyuni misal, beliau adalah bagian integral dari perjuangan, namun nama-nama mereka seringkali tenggelam di balik sorotan terhadap pahlawan laki-laki. Bahkan di tragedi Salim Kancil, ternyata ada keberanian para ibu-ibu yang berdiri di garis depan yang ikut melawan.
Terakhir saat tragedi tuntutan 17+8 misalnya, aksi ibu-ibu berjilbab pink tapi dengan cepat nya beliau di framing sebagai buzzer karena beliau menyampaikan ujaran kebencian terhadap rezim Presiden Indonesia saat ini.[i] Padahal sebenarnya esensinya adalah empati ketulusan hatinya menyuarakan keresahannya dan berdiri di Garda terdepan melawan aparat yang keparat, beliau adalah perempuan, beliau diingat semua orang namun ya seperti kata zinn di awal “perempuan tidak masuk dalam sejarah kecuali rusak reputasinya”, sama Hal nya dengan Ibu berjilbab pink yang diingat sebagai pahlawan dengan framing buzzer.
sama-sama pendemo, sama-sama korban kekerasan negara, sama-sama memiliki keresahan, sama-sama mempertaruhkan nyawa dilapangan, namun mendapat narasi tidak adil di publik. Perjuangan untuk mengakui peran perempuan di masa lalu adalah perjuangan untuk memastikan bahwa sejarah yang kita wariskan nanti adalah sejarah yang utuh dan jujur. Ini adalah tantangan untuk meninjau kembali narasi yang sudah mapan dan berani melihat bahwa kekuatan sejati dalam sejarah seringkali datang dari mereka yang kisahnya telah dihilangkan.
Referensi :
[1] Cakra Wikara Indonesia, Gerwani: Organisasi Perempuan Progresif Korban Stigma (Jakarta: Cakra Wikara Indonesia, 2021), hlm 3. https://cakrawikara.id/wp-content/uploads/2021/10/Gerwani-Factsheet.pdf
Hestianingsih, H. (2025, 29 Agustus). Momen ibu jilbab pink lawan aparat, simbol perlawanan saat demo DPR. Detikcom. https://www.detik.com/bali/berita/d-8086104/momen-ibu-jilbab-pink-lawan-aparat-simbol-perlawanan-saat-demo-dpr




