SAMARINDA – Rencana pembentukan Koperasi Merah Putih di 59 kelurahan se-Kota Samarinda mendapat perhatian Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. Ia mengingatkan agar koperasi yang dibentuk tidak sekadar menjadi program formalitas, melainkan mampu menjalankan usaha yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan memberikan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi kerakyatan.
Menurut Iswandi, arah usaha Koperasi Merah Putih harus dirancang secara matang agar tidak berbenturan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Ia menilai koperasi sebaiknya tidak masuk ke sektor usaha yang sudah banyak digeluti pelaku usaha lokal, seperti toko ritel maupun apotek, karena berpotensi menimbulkan persaingan yang tidak sehat.
“Yang terpenting, koperasi harus memberi nilai tambah, bukan menjadi pesaing langsung usaha yang sudah ada,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Sebagai alternatif, Iswandi mengusulkan agar Koperasi Merah Putih difokuskan pada sektor distribusi LPG subsidi 3 kilogram. Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap gas bersubsidi masih cukup tinggi, sementara persoalan distribusi dan ketersediaan barang kerap menjadi keluhan warga di berbagai wilayah.
Ia menilai keterlibatan koperasi dalam rantai distribusi LPG akan memberikan manfaat yang lebih besar karena dapat menjangkau masyarakat secara langsung hingga ke tingkat lingkungan dan rukun tetangga (RT).
“Kalau koperasi menjadi agen LPG 3 kilogram, distribusinya bisa langsung sampai ke masyarakat. Ini jauh lebih efektif dibanding membuka usaha yang sudah banyak pesaingnya,” jelasnya.
Selain itu, Iswandi juga mendorong adanya kolaborasi antar Koperasi Merah Putih di tingkat kelurahan melalui skema konsorsium. Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat kapasitas usaha koperasi sekaligus membuka peluang pengembangan sektor usaha yang lebih besar di masa mendatang.
Dengan jumlah koperasi yang tersebar di seluruh kelurahan, ia melihat potensi besar untuk membangun sistem usaha bersama yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kalau digabungkan dalam satu sistem, ini bisa menjadi kekuatan besar. Kita bisa dorong sampai pada pembangunan fasilitas pengisian LPG. Ini akan jauh lebih jelas arah dan manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kota Samarinda dapat mempertimbangkan konsep usaha yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat sebelum menjalankan program tersebut. Dengan perencanaan yang tepat, Iswandi optimistis Koperasi Merah Putih dapat menjadi instrumen penguatan ekonomi rakyat sekaligus membantu mengatasi persoalan distribusi kebutuhan pokok yang selama ini masih terjadi di lapangan. (adv)




